Skip to main content

follow us

Cerita Rakyat : Putri Menterai

Cerita Rakyat Bengkulu - Pada zaman dahulu, di kerajaan sungai hitam Bengkulu, hiduplah seorang janda dengan anaknya bernama Putri Menterai. Mereka tinggal di sebuah gubuk yang letaknya terpencil dari desanya. Putri Menterai terkenal sebagai gadis yang rajin, setiap hari Putri Menterai ikut dengan ibunya untuk mencari kayu bakar dan mengumpulkan hasil hutan. Kemudian mereka jual untuk memenuhi keperluan mereka sehari-hari.

Setiap pagi sebelum berangkat ke hutan, Putri Menterai memasang bubuh di sungai dekat gubuk mereka. Setelah mendapat ikan untuk lauk, Putri Menterai pulang kemudian membantu ibunya masak. Pada suatu hari seperti biasanya, Putri Menterai pergi memasang bubuh. Ketika tiba di sungai betapa terkejutnya Putri menterai. Bukan bubuh yang ditemuinya, tetapi seekor ikan mas besar, berkatalah ikan mas itu kepada Putri Menterai, "Putri Menterai, jangan takut, mendekatlah, aku ingin bersahabat denganmu, tapi ingat jangan kau ceritakan pada orang lain kecuali pada ibumu," Putri Menterai pun berjanji tidak akan menceritakan kepada siapa pun.

Sejak persahabatan Putri Menterai dengan ikan mas ajaib itu segala kesulitan Putri dengan ibunya dibantu oleh ikan mas dengan syarat Putri Menterai harus memberi kerak nasi mereka kepada ikan mas dengan senang hati Putri memberikannya. Setiap pagi sambil bermain dengan ikan mas, Putri Menterai selalu mendendangkan lagu, tanpa sengaja lagu itu didengar seorang anak Ajai, yaitu anak kepala suku mereka yang kebetulan lewat di tempat itu. Anak Ajai itu ingin mengetahui siapa yang sedang berdendang itu.

Setelah dekat dengan tempat Putri Menterai dan ikan mas anak Ajai bersembunyi di belakang semak-semak. Putri Menterai tidak menyadari ada orang yang mengintip mereka setelah Putri Menterai pulang, anak Ajai bergegas pergi dari tempat itu untuk memberi tahu ayahnya. Orang-orang terkejut, mereka tak percaya dengan ikan mas yang pandai bicara seperti manusia. Setelah anak Ajai bersusah payah meyakinkan penduduk desanya, orang-orang sepakat untuk menangkap ikan mas itu untuk jamuan pesta kejai, yaitu pesta tradisional penduduk Bengkulu.

Keesokan harinya Putri Menterai tidak menjumpai ikan mas itu di tempat mereka biasa bermain, menangislah Putri Menterai sambil memanggil ikannya, tetapi hingga menjelang tengah hari ikan mas tidak kunjung tiba. Dalam keadaan sedih, Putri Menterai pulang. Pada saat itu, muncul ibunya yang tergopoh-gopoh dari pasar sambil memanggil anaknya,

"Putri Menterai anakku ......putri,   dimanakah?" Putri Menterai sedang menangis di belakang rumahnya ketika ibunya datang.Ibunya tak kuasa menahan air matanya melihat anaknya bersedih hati,
"Anakku sudahlah jangan menangis, ikan mas sahabat kita telah ditangkap orang-orang desa, berdoalah untuknya."

"Ibu bagaimana nasib ikan mas kita, mereka pasti membunuhnya," kata Putri Menterai di seela-sela tangisnya.

"Sudahlah Putri, relakan saja ikan mas sahabat kita semoga Tuhan mengampuni mereka," pesan ibunya.

Setetah tujuh hari tujuh malam berpesta, penduduk desa membuang tulang-tulang ikan mas itu di belakang rumah mereka.

Pada suatu malam pada saat penduduk desa terlelap dalam tidurnya Putri Menterai dengan ibunya pergi ke desa untuk mengambil tulang-tulang ikan sahabat mereka yang dibuang penduduk. Setelah itu, tulang-tulang yang telah dikumpulkan dirangkai menjadi sebuah sisir.

Ketika Putri Menterai menyisir rambutnya dengan tulang ikan mas itu, berjatuhlan emas dari rambut Putri Menterai, oleh putri Menterai dan ibunya emas itu di bagi-bagikan kepada tetangganya dan pakir miskin yang hidup dalam kekuranggan, mereka sanggat berterima kasih kepada Menterai dan ibunya. Tetapi itu semua menimbulkan rasa iri pada diri anak Ajai dan penduduk desanya. Anak Ajai mempengaruhi ayahnya untuk menangkap Putri Menterai dan ibunya kemudian merampas sisirnya.

" Hai orang-orang yang rakus!" seru Putri Menterai,"Ambillah sisir itu, semoga bermanfaat untuk kalian!" Setelah itu Putri Menterai dan ibunya hilang.

Berebutlah orang-orang desa menyisir rambutnya dengan harapan mendapat emas, tetapi apa yang terjadi bukan emas yang mereka dapat tetapi beribu-ribu kutu yang berjatuhan dari rambut mereka, dan tiba-tiba datang angin yang sangat kencang semua penduduk desa yang jahat terhadap Putri Menterai mati terbawa angin akibat kerakusan mereka.

You Might Also Like:

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar