Skip to main content

follow us

HIDUPKU KELAM DALAM TIRAI JALANAN


CERPEN KEHIDUPAN : HIDUPKU KELAM DALAM TIRAI JALANAN
Oleh : Tafiana Fitmi Zen
Siswi Kelas X Madrasah Aliyah Al Azhar
Citangkolo, Kota Banjar

Terik matahari membakar kulit seorang bocah dipinggiran stasiun. Tubuhnya hitam dan kusam. Itu telah membuktikan bagaimana jalan kehidupannya untuk mempertahankan hidupnya dibawah sinar matahari yang tiap harinya membakar setiap inci kulit bocah tersebut. Pakaian yang melekat ditubuhnya telah sobek dimana-mana. Tentu itu bukan pakaian yang layak. Bocah berumur 6 tahun itu telah belajar menjadi seorang yang dewasa. Setiap paginya yang buta, dia sudah beranjak dari gerbong kereta yang sudah tidak terpakai, yang tidak lain adalah tempat tinggalnya. Di pagi buta itu dia sudah siap mengais makanan untuk dirinya, ibunya yang sakit, dan kakaknya yang cacat. Entah makanan dari tempat sampah ataupun makanan yang terinjak, tetap itulah makanan yang lezat baginya. Baginya makanan yang nikmat adalah bukan makanan yang mahal dan bersih.

Jika makanan itu cukup membuat kenyang perutnya, itulah yang dinamakan makanan lezat baginya. “Disini gak ada, kaka. Kemanan kita akan mencari makanan, kaka?” Tono si bocah 6 tahun itu berbicara dengan kakaknya yang hanya punya satu kaki, yaitu kakai kanannya. Itu disebabkan karena kecelakaan yang membuat kakak Tono harus merelakan kaki kirinya, ketika kakak Tono masih berumur 4 tahun. “ Iya Ton gak ada. Pindah aja ketempat sampah yang lain, Ton..” jawab sari yang tidak lain adalah kakak kandung Tono. Merekapun beranjak mencari makanan ditempat lain yang sama hinanya. “Nah ini lumayan, kak.” Girang Tono yang berhasil menemukan separuh roti yang tidak seberapa.

“Tapi itu hanyalah separuh roti yang kecil. Apa cukup buat kita bertiga?” Sari ragu-ragu sambil menggenggam roti yang ditemukan Tono. “Kalau begitu rotinya buat kakak sama ibu aja. Tono bisa cari lagi buat Tono. Kakak pulang aja. Nanti ibu kelaparan..” kata Tono. Dia mendorong kakaknya supaya pergi. Tetapi sebelum kakaknya pergi, Tono terlebih membalikan tubuhnya dan lari meninggalkan kakanya. Sementara kakaknya hanya terdiam melihat Tono lari sebagaimana anak seusianya.

Lagi-lagi dia mengais makanan ditempat tidak layak seperti anak jalanan. Berulang kali pula dia diusir oleh sang pemilik rumah, karena dia mengais makanan didepan rumah si pemilik rumah. Karena menurut mereka kehadiran seseorang seperti Tono itu mengganggu pemandangan dilingkungan rumah mereka. Kadang juga dia disiram air oleh sang pemilik rumah tersebut. Itulah dia.. entah didorong, disiram, maupun dibentak, itu adalah suatu hal yang sudah sangat biasa baginya. Hidup memang keras baginya, apalagi dengan keadaan ibunya yang kini sedang sakit keras. Tidak jarang pula dia kelaparan demio ibu dan kakaknya. Masih terbayang dibenaknya saat dia masih berumur 5 tahun.

Ketika itu dirinya sedang mencari barang bekas dengan ayah kandungnya. Pada saat itu dia mencari barang bekas yang berjarak lumayan jauh dengan rel kereta api. Sementara ayahnya mencari barang bekas dengan jarak yang lumayan dekat dengan rel kereta api. Sesekali ayahnya ketengah-tengah rel kereta api, Karena barang bekas yang biasanya berupa botol plastik terbang ketengah-tengah rel kereta api. Tiba-tiba saat itu ada angin yang lumayan besar hadir, sehingga mengaburkan botol bekas yang akan diambil ayanhya. Seketika ayahnya mengejar botol-botol itu sampai ketengah-tengah rel kereta api. Karena ayah Tono mempunyai penyakit tuna rungu, dia tidak bisa mendengar apapun yang ada disekitarnya.

Termasuk kereta yang sedang menghampirinya saat itu. Suara kereta dan orang-orang disekitarnya tidak dia dengarkan. Termasuk suara Tono. Saat itu Tono hendak menghampiri ayahnya, namun seseorang menahan laju langkahnya. Dia tahan Tono supaya tidak nekat menghampiri ayahnya. Namun nasib baik tidak berpihak padanya. Seketika kereta itu menghempas tubuh ayah Tono. Ayah Tono entah terhempas berapa ratus meter. Yang jelas saat itu ayah Tono telah hancur tubuhnya, tiada rupa, bahkan darahnya pun berceceran kesana-kemari. Saat itu pula Tono telah lemas dan gontai karena dia telah menyaksikan ayah tercintanya meregang nyawa didepan mukanya sendiri. Dia hanya bisa terduduk ditempat, saat orang lain sibuk mengerubungi organ-organ aah Tono yang sudah berceceran tidak jelas. Sungguh saat itu dia hanya bisa meratapi nasibnya, Perjalanannya semakin menyengsarakan baginya setelah ayahnya meninggal. Apalagi dengan keadaan ibunya yang sakt.

Sesungguhnya itu cukup menambah beban berat dipundaknya. Tapi dia adalah tetap ibunya. Tidak pernah terpikir dibenaknya untuk membuang ibunya sendiri. Panas semakin terik menyengat kulitnya. Sempat dipertengahan jalan dia menjumpai salah satu bangunan tempat dimana orang-orang mencari ilmu. Sekolah dasar diperkotaan itu dapat menarik perhatiannya. Langkah demi langkah ia sampaikan pada teras salah satu kelas tersebut. Jelas dimatanya, ia melihat anak anak seusianya sedang serius memperhatikan gurunya yang sedang mengajarkan salah satu pelajaran. Sempat terbesit dibenaknya “ Aku ingin seperti mereka. Sesungguhnya esok aku ingin menjadi seorang guru. Tapi aku tahu, itu adalah hal yang sangat mustahil bagiku. Merasakan bangku sekolah saja aku belum pernah”.

Merasa dia iri pada anak anak beruntung itu, dia segera pergi meninggalkan tempat itu,dan dia kembali terplontang planting di jalanan demi sesuap nasi untuk perut polosnya. “ Ah nasi bungkus… lumayan..!! “ katanya dan segera membuka bungkusan nasi tersebut dan melahapnya. Walau banyak lalat mengerubungi nasi tersebut, karna memang nasi tersebut telah basi, tetapi itu bukan penghalang untuk melahapnya. Namun,selapar apapun dirinya,masih dia sempatkan untuk menyisikan nasi bungkus itu untuk ibu dan kakak kandungnya digerbang tempat tinggalnya.

Hujan bagai mengamuk menyaksikan derita seorang bocah berumur 6 tahun itu. Tetapi hujan itu kini membuatnya meneduhkan diri dirumah kecil dan kosong. Bahkan didalam rumah itu telah bocor karena atap yang bolong. Serta tembok dan lantai rumah itupun telah berlumut. Namun, ternyata hari telah berpihak padanya. Hujan tidak berlangsung lama. Setelah hujan reda, bocah itu kembali melanjutkan perjalanannya menuju tempat tinggalnya. Sesampainya dia digerbong, dia langsung masuk kedalam gerbong tersebut, dan dia mendapati ibunya yang sedang terkapar payah diatas sobekan kardus dan berselimutkan kain yang sudah kumal, bau, dan sobek dimana mana. “ Ibu udah mendingan apa belum..?? ibu sudah makan..??? ini Tono bawakan nasi bungkus buat ibu. Maaf lagi lagi ini mungut ditempat sampah”. Katanya dan meletakkan nasi bungkus disamping ibunya. Namun ibu yang tergeletak itu tidak merespon perkataan anaknya. Dioa masih terpejam dengan wajahnya yang pucat.

Tubuh yang semula sepanas air yang mendidih , ini menjadi sedingin es yang beku. Rasa khawatir tiba tiba muncul dalam dirinya.dia keluar gerbong dan menyusuri pandanganya untuk menemukan kakanya.tidak berlangsung lama,dia menemukan kakanya yang sedang dengan kedua telapak tangannya . “kak?”tono memangil kakanya dan duduk di samping kakaknya .namun kakak Tono tidak sama sekali menyahut pangilan adiknya. “kak,ibu kenapa?tubuhnya dingin.” Tono bertanya kembali. Namun kakaknya hanya menggelengkan kepala dan masih menutupi mukanya. Tiba tiba isak tangis pun terdengar. “ Loh kakak kenapa..??? kakak nangis..??? siapa yang udah bikin kakak nangis..??” pertanyaan berturut turut keluar dari mulut polos si Tono . Kakaknya pun membuka kedua telapak tangannya dari mukanya . terlihatlah mukanya yang lurus dan matanya yang merah. Hamper seluruh bagian mukanya terbasahi oleh air matanya. Namun, tetap satu patah katapun tidak keluar dari mulutnya. “ Kakak, jangan diam saja. Ngomong sama Tono kak.

Jangan kaya gini.” Tono mulai ngotot, karena kakaknya tidak menjawab setiap pertanyaan dari Tono. “ Ibu Ton….ibu….” akhirnya sari atau kakak Tono buka mulut tapi dia belum menuntaskan pertanyaan karena masih ada sisa isak tangisnya. “ Ibu..??? kenapa dengan ibu kak..?? kak lagi cari ibu??? Ibu lagi tidur didalam kak. Tapi tubuhnya jadi dingin banget.” Tono menjawab polos. “Tono… ibu udah gak ada . ibu udah meninggal, Ton…..” jawab Sari tabah. Dia menatap adik kandungnya, denga tatapan penuh kesabaran. “meninggal..??? maksud kakak apa..?? ga mau kak..!! Tono gak mau ibu meninggal.” Rengek Tono “ Tapi itu nyatanya, Ton sekarang ibu udah gak kesakitan lagi, Ton” kata sari berusaha menenangkan Tono. “ Tapi ibu udah gak bisa bareng bareng lagi sama kita, kak Tono masih pengen sama ibu. Tono pengen ikut ibu” Tono semakin merengek karena telah kehilangan ibunya. “Tono gak boleh ikut, Tono tega ninggalin kakak yang bunting ini, tinggal sendiri dikota sekejam ini? “ Sari juga tidak ada bedanya dengan Tono. Dia pun ikut merengek dengan nada yang meninggi. “Enggak, kak…..” Tono memeluk kakaknya. “ Kakak sayang Tono.” Sari membalas pelukan adiknya. “ Tono juga, kak” Jawab Tono dan mempererat pelukannya.

Hari kembali berlanjut. Tono berusaha tabah dengan nasibnya kini hidup terpluntang planting dikota yang terkenal dengan sebutan kata metropolitan dengan kakaknya yang cacat tanpa kedua orang tua mereka. Tono kembali mencari barang bekas namun kali ini tidak dengan ayahnya, melainkan dengan kakaknya sebenarnya dia masih ada bekas trauma karena sempat kehilangan ayahnya ketika sedang mencari barang bekas pula. Namun mencari barang bekas harus dia lakukan untuk cacing cacing dalam perutnya. Dengan segala kepolosan Tono, satu persatu barang bekas yang dapat didaur ulang ia masukkan pada karung kumal dibalik punggungnya. Sedangkan, kakaknya sibuk mencari barang bekas didekat jalanan komplek yang sepi. Jalanan komplek masih sepi, karena pada saat itu masih pukul 03:45 WIB.

Kakak Tono perlahan namun pasti mengumpulkan barang barang bekas. Tiba tiba saja angin pagi menghembus pelan dan berhasil menghamburkan botol plastik yang hendak dia ambil. Mengetahui botol plastic yang hendak diambil lari karena hembusan angin, kakak Tono pergi mengejar botol plastik tersebut dengan berhenti berlari ditengah jalanan komplek. Kakak Tono berjalan pelan namun pasti menghampiri sumber uangnya. Sesampainya dia langsung beringgas mengambil botol yang kini menjadi miliknya. Tetapi itu tidak lama. Tidak jauh dari tempatnya berdiri, ada sebuah truk besar menghampirinya. Ingin dia lari namun dengan satu kakinya, itu lumayan rumit. Dan tanpa permisi lagi, truk itu menghempas tubuh kakak Tono. “ Tonoooooooooooo…….” Sari memanggil adiknya, namun truk segera menabraknya.

Tono mendengarada suara yang memanggil dirinya. Setelah dilihat sekelilingnya, ternyata dia melihat kakak nya yang sedang terkapar ditengah jalan, berceceran darah, tanpa ada nyawa. Dia pun panic dan segera berlari menghampiri jasad kakaknya. “ kakakkkk…???? Kakkkakkkkkkkkk……..!!!!!!!!!!!!” tono menangis dan dipangkunya kepala Sari yang sudah mengalir banyak darah. “ Kakak jangan tinggalin Tono. Kakak gak sayang sama Tono apa..??? Kenapa kakak ikut ibu pergi..???” rengek Tono semakin keras. Dia juga berusaha menyingkirkan darah dari muka kakaknya. “kak…. Sekarang Tono harus sama siapa..??? Tono udah gak ada temennya lagi. Ayah, ibu, kakak, sekarang udah gak ada lagi..” Tono kembali merengek, memeluk jasad ibunya. “ Dulu: kakak suruh Tono jangan tinggalin kakak. Kenapa sekarang kakak yang tinggalin Tono ?” Tono merengek tanpa henti.namun dia berusaha melapangkan dada menerima setiap garis hidupnya.

Hidupnya memang berat untuk dijalani, tapi tidak sedikitpun terlintas dibenaknya untuk mengahiri hidupnya karena cobaan yang menimpanya bertubi tubi. Apakah dia korban kejamnya pemerintah…???? Entah siapa yang tahu yang diketahui orang banyak hanyalah orang yang seperti Tono hanya seorang gembel. Dan seseorang seperti Tono hanyalah makhluk hidup yang tidak dianggap hidup. Namun Tono tidak pernah memikirkan hal itu. Yang ada dalam benak Tono hanyalah bagaimana caranya dia bisa kenyang. Karena kini dia hidup sendiri ditengah kota yang luas, dia harus bekerja sendiri untuk sesuap nasi sebagai ganjal perutnya. Pipihan tutup besi dia tumpuk menjadi tiga tumpukan disebatang kayu balok kecil.

Saat lampu merah menyala itu saat yang tepat untuk mencari nafkah untuk dirinya sendiri. Setelah uangnya lumayan terkumpul, dia memutuskan pergi kewarung nasi. Kini dia membeli nasi bungkus tersebut hanya sekedar pengganjal perutnya. Dia duduk disamping bapak tua yang sedang melahap nasinya dari tadi. “ De..??” Bapak itu memanggil Tono “ Ia, pak..??” Tono menyahut nya dan meletakkan nasi yang hendak dilahapnya, karna dia berusaha untuk sopan. “Ade ngamen.,..?? kenapa gak ada temannya..?? emang orang tua ade dimana,,?? “ tanya bapak tersebut. “Ia pak. Saya memang gak punya teman. Ayah,ibu,dan kakak saya sudah meninggal semua pak”. Jawab Tono.

Tidak terasa ada butiran air yang memaksa keluar dari sudut mata Tono, “Oh begitu.Maafin bapak,de. Ade mau ikut bapak..??? bapak punya panti asuhan tidak jauh dari sini. Disana banyak teman. Oh iya nama ade siapa..?? nama bapak, sugeng.” Bapak itu kembali berkata sekaligus membujuk Tono agar mau ikut dengannya. “ Tapi, pak…….” Tono agak menolak. “ Tono……… bapak itu bukan orang jahat. Tono mau ikut sama bapak..??” Bapak itu kembali menawar.

Dan saat itu pun Tono tidak dapat menolak Akhirnya Tono pergi bersama bapak tersebut. Tidak lama mereka sampai ditempat tujuan. Jelas dipintu masuk bertuliskan PANTI ASUHAN KASIH. Hidupnya kini telah baru. Ternyata ada hikmah dibalik ketabahannya selama ini. Ternyata ada banyak anak-anak yang senasib dengannya. Manjadi anak yatim piatu, ada juga anak yang dibuang oleh orang tuanya. Tapi beruntung bagi dirinya dan anak-anak yang lain. Karena ternyata masih ada oknum yang peduli terhadap manusia seperti dirinya.

Banyak orang kaya yang tidak sudi memegang seseorang seperti dirinya. jangankan memegang, melihatpun tidaklah sudi. Sedangkan orang tua, yang hidup berkecukupan ini mampu mengasuh berpuluh-puluh anak yang senasib dengan Tono. Seiring berjalannya waktu, kehidupannya berlangsung menjadi lebih baik. Inilah titik awal baginya untuk mencapai cita-citanya dari dulu. Menjadi seseorang yang mempunyai jasa mulia demi nusa dan bangsanya.

Terik senja menerawang dibalik tirai kuning miliknya. Terik senja itu berhasil membangunkan dirinya. dia duduk dikasurnya yang empuk. Sesekali pula dia mengerjapkan meta bulat miliknya. Tangannya merogoh kebawah bantalnya. Ditemukannya foto yang masih hitam putih berisikan 4 orang dalam satu keluarga. Teringatlah perjalanan hidupnya 25 tahun yang lalu. Kemudian terbesitlah dalam benaknya “Ayah, ibu, kakak.. sekarang Tono sudah dapat kalian banggakan. Tono sudah berhasil mencapai cita-cita Tono. Tono sudah menjadi guru yah, bu, kak....”

You Might Also Like:

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar